Wednesday, January 14, 2009

MANAJEMEN MARAH

MANAJEMEN MARAH

Oleh Fira Afiyanthy

"Sesungguhnyaa marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam. Ingatlah bahwa sebaik­baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan, dan sejelek­-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha" (HR. Ahmad dari Abu Sa' id al-Khudriy)

Ketika ada yang bertanya, apakah anda pernah marah, pasti semua dari kita akan menjawab pernah. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi apakah anda akan marah bila melihat si kecil menumpahkan dan mengacak-acak makanan dilantai yang baru saja anda sapu dan pel? Jawabannya, pasti beragam. Mungkin sebagian dari kita akan menjawab "jelas marah lah !!", dan sebagian yang lain akan menjawab "namanya juga, anak kecil, kenapa harus marah?", atau mungkin sebagian yang lain akan menanggapi dengan keragu-raguan antara, marah dan tidak.

Marah, menurut Imam Al-Ghazali, dalam bukunya yang terkenal, Ihya Ulumuddin, pad hakikatnya merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal negatif yang telah menimpa seseorang.

Menurut Linda L Davidof, dalam bukunya Introduction to Psychology, marah adalah suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi, dan adanya perasaan tidak suka yang amat kuat yang disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata salah atau mungkin pula tidak.

Bila kita lihat dari definisi yang diberikan oleh Linda diatas, kemarahan atau marah sangat tergantung dari persepsi orang yang bersangkutan. Artinya kemarahan yang dirasakan oleh kita akan berbeda dengan kemarahan yang dirasakan oleh orang lain dan atau suatu stimulus bisa menimbulkan kemarahan bagi satu individu tetapi belum tentu menimbulkan kemarahan bagi individu lainnya. Karena stimulus tersebut bisa dianggap sebagai suatu kesalahan bagi seseorang tetapi tidak bagi yang lainnya.

Pada umumnya marah mendorong seseorang pada tingkah laku agresif, seperti mengumpat, memukul, menendang, membanting, bahkan jika diteruskan pada tingkat yang lebih ekstrim prilaku ini dapat mengarah pada tindak kriminal seperti melukai, menyiksa atau bahkan membunuh. Tetapi, tentu saja ekspresi marah tidak selalu dalam bentuk tingkah laku agresif, karena pada sebagian orang marah ditunjukan dengan cara yang berlawanan dengan agresi seperti diam, mengurung diri, murung, atau menangis.

Tiga Karakter Marah

Menurut Dr. Setiawan Budi Utomo (Anggota Dewan Syari'ah Nasional MUI), paling tidak, ada tiga karakter marah dalam Islam.

Pertama, yaitu rendah, dimana kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim rendah ini ditandai dengan ketidak mampuan seseorang untuk marah, pun disaat yang sebenarnya mengharuskan orang tersebut marah. Seperti saat menghadapi kemungkaran dan musuh-musuh Allah. (QS. AL-Fath: 29 dan At-Taubat:73).

Yang kedua dari karakter marah adalah tinggi. Kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim yang berlawanan dengan yang pertama ini ditandai dengan adanya sifat marah yang tidak terkontrol dan keluar dari akal sehat serta norma agama. Suatu hal yang sepele bisa menimbulkan kemarahan yang sangat bagi orang yang memiliki karakter kedua ini. Atau dalam Psikologi disebut sebagai orang tempremental.

Yang terakhir dan yang paling baik adalah karakter marah moderat. yaitu suatu sikap yang terpuji yaitu tetap berada dalam kendali akal sehat dan kesadaran agama, sekalipun dalam keadaan marah.

Kiat Mengendalikan Marah

Meluapkan kemarahan apalagi yang berlebihan, merupakan salah satu ekspresi memanjakan ego yang cenderung bersifat negatif, atau dalam al-Qur'an sering disebut dengan nafsu amarah (QS. Yusuf.53). Kita sering beranggapan bahwa dengan meluapkan kemarahan, kita akan melegakan kemarahan, padahal sebenarnya yang terjadi sering kali membuat orang yang bersangkutan tidak dapat mengontrol dirinya.

Dilihat dari aspek medis menurut para pakar, kemarahan dapat menimbulkan hipertensi, maag, gaugguan fungsi jantung, insomnia, kelelahan bahkan serangan jantung. Dalam konteks psiko social, luapan kemarahan mungkin dapat "menenangkan atau melegakan", tetapi efek lain dari luapan ini adalah dapat memutuskan tali cinta kasih, silaturahmi, dan mengacaukan komunikasi yang terjalin. Seseorang yang marah cenderung mengedepankan nafsunya dan mengesampingkan akal sehat dan agama. Maka berhati-hatilah karma ledakan amarah dapat menimbulkan permusuhan dan berefek buruk terhadap kesehatan mental kita.

Ada beberapa kiat untuk mengendalikan amarah, antara lain adalah:

· Memaafkan, sikap lembut dan tegar dengan mengharap ridha dan balasan baik dari Allah (QS. Al-Alraf.199, Ali Imran:134)

· Mengingat qishas di akherat, jika kita melampiaskan kemarahan. Riwayat Abu Ya'la ketika merasa kesal dengan Washif yang lambat melaksanakan tugas. Rasulullah menegurnya secara bijak seraya berkata, " Kalaulah tidak mencemaskan pembalasan di akhirat, niscaya aku beri engkau pelajaran"

· Mengingat pesan nabi dalam hadits Abu Dawud, " Duduk ketika sedang berdiri, tiduran ketika sedang duduk, jika masih marah, berwudhu atau mandilah dengan air dingin"

· Memikirkan kembali dengan tenang, tentang faktor yang menjadi pemicu marah, apakah memang sepatutnya disikapi dengan marah atau tidak.

· Tersenyum. Cobalah bercermm saat anda marah, dan lihatlah betapa jeleknya anda ketika marah dan tersenyumlah, percaya atau tidak, kemarahan yang anda, rasakan akan sirna perlahan-lahan.

· Positif thinking (husnudzon) dan mencoba memahami alasan sikap dan prilaku orang lain.

· Berlatih menunda amarah, dengan tidak mealampiaskan marah secara spontan dan refleks

· Coba dekatkan diri secara fisik kepada seseorang yang anda cintai disaat anda marah untuk menetralisir kemarahan. Misalnya dengan menggenggam tangannya. Kiat ini juga bisa kita gunakan untuk meredam kemarahan orang yang kita cintai pada kita.

· Diam dan dengarkan

· Ungkapkan kemarahan dengan tulisan.

· Komunikasi dan proaktif. Jangan harap orang lain dapat membaca fikiran kita atau mengetahui apa yang kita inginkan

· Membaca taawwudz seraya berdoa kepada Allah agar terhindar dari provokasi syetan dan jebakan fitnah yang menyesatkan." Allahumma Rabban Nabi Muhammad, ighfirlii dzambi wa adzbib ghaiddha qoIbii wa ajimii min mudhilatil fitan".

Ungkapkanlah kekesalan kita dengan tetap mengendalikan diri. Orang yang kuat menurut Islam bukanlah orang yang menakutkan ketika marah, melainkan orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh," Bukanlah disebut kuat orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika ia marah"

Akhirnya, mari kita tingkatkan terus keimanan kita kepada Allah dengan mendekatkan diri pada-Nya. Karena letak iman berada di hati sedangkan hati bersifat tidak tetap, maka selain itu jangan pula kita pernah lupa untuk terus memanjatkan doa pada Allah ta'ala, karena setiap tindakan/usaha tanpa dibarengi doa adalah ketakaburan dan sebaliknya doa tanpa dibarengi dengan usaha adalah kemalasan (Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang kecuali orang itu yang mengubah dirinya dengan berusaha). Doa adalah usaha dan usaha adalah doa. Keduanya tak dapat dipisahkan dalam suatu pencapaian yang besar.

"Ya Lathif, lembutkanlah hati kami, sehingga menjadi lembut pula setiap tindakan yang kami lakukan. Lembutkanla hati kami untuk mudah menerima setiap ketetapan-Mu, lembutkanlah hati kami untuk mudah menerima segala perintah-Mu, sehinggga ia dapat kami jadikan sebagai penerang dalam hidup, sebagai pembimbing dalam langkah kami.

Ya Lathif, lembutkanlah hati kami, agar kami dapat memahami dan menjalani takdirmu dengan keikhlasan dan kelapangan Karena tiada yang dapat membuatnya menjadi lapang selain Engkau wahai menguasa jagad.

Ya Ghofar, ampunilah segala dosa kami dan kedua orang tua kami, ampunilah segala kehilafan dan kemarahan yang pernah kami lakukan, kemarahan yang pernah kami luapkan pada kedua orang tua kami, kemarahan yang pernah kami luapkan pada suami kami, anak-anak tak berdosa kami, teman-teman kami, tetangga-tetangga kami, guru-guru kami, murid-murid kami dan yang lainnya.

Ya Shabur, berikanlah kesabaran pada kami dalam menghadapi setiap cobaan yang engkau berikan, sehingga tidak ada kemarahan dalam menghadapi cobaan tersebut.

Ya Muqalibal Qulub, tetapkanlah hati kami, tetapkan ia untuk tetap komitmen dalam ikatanMu, tetapkan ia untuk terus mencari ridhaMu, sehingga setiap detik dari waktu yang kami lalui, setiap desah dari nafas yang terbuang, setiap tapak dari jalan yang kami susuri adalah ladang amal kebaikan, tetapkanlah hati kami, tetapkanlah ia pada jalan yang telah kau gariskan, tetapkanlah ia berpegang pada Qur'an dan SunahMu, sehingga kami tidak akan sesat pada jalan yang salah. Bersihkanlah ia dari penyakit-penyakit yang akan menggerogoti keimanan kami

Ya Lathif, Ya Ghofar, Ya Shobur, Ya Muqolibal qulub, Amien Ya robbal `alamin.

No comments:

Post a Comment